BANDA ACEH — Pagi pertama setelah libur panjang Idulfitri di halaman Kantor Gubernur Aceh terasa berbeda. Barisan aparatur sipil negara kembali rapi, suasana khidmat berpadu dengan semangat baru. Di hadapan para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan ratusan ASN, Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Nasir, menyampaikan pesan yang lugas: percepatan kerja tak bisa lagi ditunda.
Apel pagi, Rabu, 25 Maret 2026, itu menjadi penanda dimulainya kembali ritme pemerintahan di Banda Aceh. Namun bagi Pemerintah Aceh, momen ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Ia menjadi titik tolak untuk memastikan seluruh program pembangunan berjalan lebih cepat, lebih terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Nasir menekankan, percepatan pelaksanaan program kerja harus berjalan seiring dengan perencanaan yang matang dan pengawasan yang ketat. Kombinasi itu, menurutnya, menjadi kunci agar target pembangunan tidak hanya tercapai di atas kertas, tetapi juga terasa nyata di lapangan.
"Momentum ini hendaknya kita maknai sebagai ajakan untuk memacu kembali kinerja, memperkuat disiplin, dan menjaga integritas," ujarnya di hadapan peserta apel.
Bagi jajaran birokrasi, pesan itu bukan tanpa konteks. Pascaperayaan Idulfitri, pemerintah daerah dihadapkan pada tuntutan percepatan realisasi anggaran—sebuah faktor penting dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi daerah. Nasir mengingatkan, setiap program yang telah dirancang harus segera dieksekusi tanpa penundaan, agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara langsung.
Dalam arahannya, ia juga menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor. Koordinasi antarinstansi dinilai menjadi elemen krusial, terutama dalam menghadapi tantangan pembangunan yang kian kompleks, termasuk percepatan rehabilitasi dan pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Aceh.
"Bekerjalah dengan lebih cepat, lebih cermat, dan lebih berdampak," kata Nasir, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya serapan anggaran, melainkan sejauh mana hasil kerja pemerintah memberi perubahan bagi kehidupan masyarakat.
Di tengah tuntutan kinerja itu, suasana kebersamaan tetap terjaga. Usai apel, para pejabat dan ASN larut dalam tradisi saling bersalaman dan bermaaf-maafan—sebuah ritual sederhana yang merekatkan hubungan di lingkungan birokrasi. Nuansa hangat itu menjadi penyeimbang, mengingatkan bahwa kerja pemerintahan tidak hanya tentang target, tetapi juga tentang kebersamaan.
Mengakhiri arahannya, Nasir atas nama pimpinan Pemerintah Aceh menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, seraya mengajak seluruh jajaran untuk memperkuat silaturahmi dan semangat pengabdian.
Dari halaman kantor gubernur itu, pesan disampaikan dengan jelas: selepas hari raya, saatnya kembali bekerja—lebih cepat, lebih disiplin, dan lebih berdampak bagi Aceh.Adv
