-->

Mengungkap Dugaan Praktik 'Jual Beli' Hukuman Oleh Oknum JPU Kejari Aceh Timur

Ismail Abda author photo
Cerbung: Senin ,14 September 2026

Aceh Timur, BAP--Di balik dinding tembok tinggi Lapas Kelas II B Idi, ada ratusan kisah yang selama ini dikunci rapat. Bukan sekadar kisah penyesalan atas kesalahan yang diperbuat, melainkan kisah duka karena merasa telah dikhianati oleh oknum-oknum Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang seharusnya menjadi penegak kebenaran.
 
Selama berhari-hari, awal Agustus 2026 lalu wartawan media ini mencoba mendekati satu persatu narapidana dan mengajak mereka ngobrol, suara-suara itu perlahan mulai keluar. 

Satu per satu narapidana menceritakan apa yang mereka alami—rasa takut, keputusasaan, hingga perasaan diperdaya yang tak kunjung hilang.
 
KETIKA PERSIDANGAN BUKAN LAGI TENTANG HUKUM
 
Proses persidangan yang seharusnya menjadi tempat mencari keadilan, bagi banyak orang justru menjadi tempat paling menakutkan. 

Di tengah ruang sidang, di sela-sela pemeriksaan saksi, atau menjelang tahap tuntutan, muncul suara-suara berbisik yang mengubah makna seluruh proses hukum. 
 
"Ada jalan agar hukumanmu ringan," begitu kata mereka.

Angka-angka disebut—jutaan, puluhan juta, hingga ratusan juta rupiah. Bagi keluarga yang hidup sederhana, itu adalah uang yang tak akan terkumpul dalam seumur hidup. 

Namun ketakutan akan hukuman berat, bahkan ancaman hukuman mati, membuat mereka rela menjual apa saja, berhutang ke mana saja, demi secercah harapan.
 
Pertemuanpun terjadi di ruang kerja lantai dua kantor Kejari Aceh Timur antara keluarga korban atau terdakwa. 

Ada juga yang berlangsung di pekarangan Masjid Agung Idi—tempat yang seharusnya suci, justru menjadi saksi perpindahan uang harapan.
 
Namun janji itu tak ditepati. Saat hakim membacakan putusan, angka yang keluar jauh dari yang dijanjikan oleh oknum-oknum berbaju coklat itu. Uang lenyap. Harapan pun sirna.
 
Dari puluhan pengakuan yang terekam, muncul nama-nama oknum Jaksa yang kerap disebut para korban. siapakan  tiga sosok oknum  yang diduga paling banyak berperan dalam praktik ini?.

Bersambung ke bagian 2


Oleh: Ismail Abda
Penulis penulis: Pendiri Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT)

Editor: Istanjoeng 
Share:
Komentar

Berita Terkini